Berhematlah Dalam Pengeluaran Kata “Jangan”
Januari 8, 2009 at 9:45 am Tinggalkan komentar
Seperti yang sudah dicanangkan oleh MT, bahwa tahun 2009 adalah tahun : CARA.
Pengertiannya, meskipun kita mengerjakan apa yang sudah dikerjakan oleh orang-orang terdahulu, bila kita gunakan cara-cara baru, akan dimungkinkan kita akan mendapatkan hasil yang baru dan spektakuler.
Analoginya pada apa yang dilakukan oleh putra-putri kita, secara esensi, sudah ada seperti kita-kita di masa muda dulu. Hanya cara-caranya yang berbeda.
Yang selalu ada pada remaja dulu hingga sekarang adalah :
Mereka sangat fokus dalam membangun daya-tarik pribadi dan sangat berani dalam bereksperimen di berbagai bidang.
Pada saat masih sangat muda dulu, saya berkecimpung di organisasi remaja, memang masih tidak ada beban.
Saya tidak pernah memikirkan hasil, yang penting proses saya jalankan, sehingga saya bisa dengan tenang bertemu dengan mereka yang bermasalah, tidak sopan dan penampilan yang tidak-umum.
Enak sekali menggali informasi dari mereka, kapan mereka bisa berselingkuh dari orang tua, sedangkan jadwal mereka ketat dan tertata rapih.
Saat ini memang ada beban, ketika kita memiliki putri atau putra remaja. Kita sudah berfikiran terlalu jauh, tidak setia pada proses, sehingga untuk hal-hal yang sederhana saja, sulitlah kita membangun komunikasi yang apik pada anak remaja kita.
Bila kita perhatikan lekat-lekat, bahwa para remaja itu sangat serius membangun daya-tarik.
HP, chatting , busana dan segala atributnya adalah life-style mereka.
Mereka serius mengikuti perkembangannya, agar selalu mendapat brand “gaul“
Anak yang gaul akan mendapat tempat dan kelas tersendiri di lingkungannya.
Ada “bahan” dasar yang sama dari waktu ke waktu, untuk membangun sebuah ketertarikan.
- merasa berkelimpahan
- merasa penuh cinta
- merasa gembira
Kita dapat belajar dari para remaja itu, sepertinya mereka tahu falsafah memberi sebelum diberi, yaitu tertarik dulu sebelum menarik bisa perhatian.
Menurut kamusnya Pak Selo Sumardjan, di sebut proses identifikasi.
Untuk mempunyai daya tarik mereka mencari seorang tokoh yang menurutnya patut untuk ditiru.
Mereka merasa berkelimpahan membelanjakan uang, merasa penuh cinta dan merasa gembira untuk dapat meniru apa yang ingin diidentifikasikanny a itu.
Dalam proses keremajaan mereka itulah kita menemukan hal-hal yang :
kurang sopan, semau gue, keras kepala, menyebalkan ada pada diri mereka.
Selama itu ini seorang MT, selalu berhati-hati menulis dan menampilkan “bahasa-tinggi” itu ada maksudnya.
Beliau ingin menampilkan bahasa universal atau bahasa falsafah.
Keuntungan mempelajari bahasa falsafah, adalah dari segi praktisnya dapat diaplikasikan kepada semua umur, golongan dan lapisan masyarakat.
MT ingin melatih kita sebagai pelatih. Training for the trainer.
(ini penafsiran saya pribadi).
Anak-anak kita adalah lebih baik kita sendiri yang melatihnya.
Jangan di”pasrah-bongko’ an” (serahkan mentah-mentah) kepada guru, pesantren atau orang yang dianggap mumpuni.
Kita harus mencari orang yang kita anggap mumpuni itu, untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan kita, guna diteruskan kepada anak-anak kita.
Kata “Super“, adalah berasal dari sebuah pujian atau penghargaan dari diri kita kepada orang-orang yang kita temui di sekeliling kita.
Semua orang, dari berbagai tingkatan usia, sangat butuh penghargaan.
Maka memujilah… …
Beliau Yang Maha Kuasa, yang tak butuh pujian-pun, masih memberikan perintah dan penghargaan kepada ummat yang selalu memuji-Nya.
Alhamdulillah. …..
Puji Tuhan……. ..
Tentu ada maksudnya, bila Beliau YMK berfirman untuk selalu memuji-Nya.
Penghargaan akan menarik segalanya.
Penghargaan akan menarik dukungan.
Seorang Ibu yang diberi penghargaan oleh suami dan anak-anaknya, tentang masakannya yang enak, tentu akan dengan suka-cita mengulangi menu masakannya dihari-hari yang indah dimana mereka bisa berkumpul bersama lagi.
Artinya, bila kita secara ikhlas melihat sisi-baik yang dikerjakan oleh putra dan putri kita;
Dan secara ikhlas pula memberikan penghargaan atas yang diperbuatnya.
Penghargaan itu akan menarik dukungannya kepada Anda
Sang Anak akan dengan senang hati akan mengulang pekerjaan yang terpuji dan diberi penghargaan kepadanya pada kesempatan-kesempat an yang lain.
So, saya mengajak diri saya dan Super Members
Ambil kertas,…
Pikirkan apa alasan Anda mencintai putra-putri yang sedang tumbuh menjadi remaja ini.
(Kekhawatiran atau bahkan kebencian Anda, menunjukkan bahwa apa yang Anda cintai tidak dilakukan oleh putra-putri kita lagi)
Anda akan menemukan hal-hal yang Anda pikirkan, ketika Anda fokus pada penghargaan dan pengakuan kekuatannya.
Bila Anda fokus pada penghargaan dan pengakuan kekuatannnya, berarti Anda telah banyak berfihak kepadanya, dan masalah (tidak sopan, semau gue, keras kepala)-pun akan memudar.
Ada pesan MT yang berbunyi, kurang lebih begini :
Bila Anda ingin didengarkan kata-kata-nya oleh orang lain;
Maka dengarkanlah kata-kata orang lain
Berarti bila nasihat kita ingin didengar oleh putra-putri kita
Maka kitapun harus banyak mendengar kata-kata putra-putri kita
Dan satu lagi nasihat MT untuk para Ibu dan Bapak (maaf,tidak tepat benar redaksinya):
Berhematlah dalam mengeluarkan kata “jangan”
Bayangkan bila kita dalam sehari sudah mengeluarkan 380 kata “jangan”
Dan besok pagi kita mendapatkan anak kita sedang merokok.
Kali ini kita ingin betul-betul menekankan kata-kata jangan yang lebih.
Betul-betul jangan….
Maksudnya, ketika kita benar-benar marah, melarang , tidak ikhlas dan murka akan tindakan mereka yang terakhir ini.
Para remaja kita itu menganggap pada tingkatan 380 kata “jangan” sebelumnya.
Kira-kira sama dengan kemarin.
Itulah asal usul bahwa nasihat orang tua sudah tidak “direken” (diperhitungkan) oleh anaknya.
Super Members, yang baik
Demikianlah saya mencoba mencairkan kekhawatiran dan kegamangan saya terhadap masa depan putra-putri kami, dengan berpikir , bersikap dan bertindak seolah-olah saya sudah menjadi orang tua yang bisa menghargai anak-anaknya, dapat berkomunikasi dengan intens dan merasa “direken” oleh anak-anaknya.
Semoga pemantasan-diri seolah-olah sudah berhasil ini, betul-betul berhasil saya pertahankan, dan semoga bermanfaat bagi para orang tua yang sedang mengalami hal yang serupa.
Entry filed under: Mario Teguh. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed